Jumat, 20 November 2009

Review Film 2012 dan Foto-foto Film 2012

2012. Sebelumnya saya berfikir saya akan menonton film yang bagus karena fisual efeknya. Film ini bisa dibilang bagus karena secara visual memang bagus. Tapi sayang saya tak sependapat dengan itu. Film ini memang bagus secara keseluruhan.

Saya berfikir saya akan nonton film yang hanya bagus dilihat saja, dengan artian bagus visualnya. Saya berfikir yang hadir dalam film ini adalah cuplikan-cuplikan kerusakan dunia. Dengan diolah kecanggihan teknologi yang luar biasa. Dimana cerita dan unsur-unsur film lainnya lemah. Ternyata dugaan saya salah. Film ini, tidak hanya bagus visual efeknya saja. Tapi ceritanya juga oke.

Film ini diceritakan sangat detail. Lengkap semuanya ada mulai persahabatan, percintaan keluarga dan tak luput konflik pemerintahan pun ada. Konflik diolah sangat bagus, beiringan dengan disuguhnya fisual efeknya yang cukup membuat adrenalin kita naik turun.

Menurut kaca mata saya, mungkin film ini tak terlalu menceritakan kiamat, tapi di film ini diceritakan bagaimana hancurnya dunia. Seperti pada jamannya Nabi Nuh. Dimana masih ada manusia yang bisa selamat dalam bencana besar itu. Kalau Cuma bencana maha dahsyat masih bisa ada yang selamat kan? Kalau benar kiamat yang terjadi, saya percaya tidak akan ada yang selamat.

Jadi menurut saya terlalu berlebihan kalau sampai harus memboikot film ini. Dan menilai film ini menyesatkan. Saya tidak setuju itu. Tak ada adegan yang menyesatkan dalam film ini. Kalau ada yang bilang lebay, itu haknya setiap orang untuk menilainya seperti itu.

Luluh lantaknya dunia, digambarkan sangat detail

Luluh lantaknya dunia, digambarkan sangat detail

Bagaimana gempa digambarkan, tsunami besar, robohnya bangunan-bangunan pencakar langit, ombak-ombak besar yang bergulung-gulung dan lain-lain. Semuanya masih bisa diterima akal. Namanya juga bencana besar. Dan semua luluh lantak. Bagusnya Roland Emmerich menceritakannya sangat detail. Hancurnya dunia digambarkan dengan dilengkapi konflik politik, percintaan, persahabatan bahkan tentang keluarga.

Film ini tak melulu hanya menggambarkan bagaimana hancurnya dunia dengan visualisasi yang sangat bagus. Bagusnya lagi walau ceritanya beragam, 2012 sangat mudah untuk diikuti. Tak sulit untuk mengikuti jalan cerita film yang menceritakan kerusakan di seluruh dunia ini.

Pesawat yang membawa keluarga Jackson Curtis melewati robohnya gedung-gedung pencakar langit

Pesawat yang membawa keluarga Jackson Curtis melewati robohnya gedung-gedung pencakar langit

Tapi ada yang membuat saya sedikit kecewa, dimana yang selamat dalam bencana maha dahsyat itu adalah golongan negara maju atau G8 (Amerika, Inggris, Italia, Jepang, Perancis, Jerman, Kanada, dan Rusia). Seakan-akan sengaja menggambarkan cuma 8 negara maju tersebut yang punya dunia.

Kesimpulan

Cerita, akting pemain, fisual efek, semuanya bagus. So, kesimpulannya film ini layak tonton sampai 2 kali. Film 2012 itu seru, lucu, mengharukan, menegangkan, baguslah pokoknya. Film ini saya rekomendasikan untuk anda tonton.

Di luar itu semua, saya berharap ada sekuel dari 2012, dimana bisa menceritakan bagaimana kelanjutan kehidupan setelah bencana besar yang telah melenyapkan ras dunia itu.

Cacatan: Walau di film cukup disinggung masalah ramalan bangsa Maya. Saya tidak menghubungkan dengan ramalan datangnya hari kiamat tersebut. Dengan kata lain saya tidak percaya dengan ramalan tersebut. Dan saya menikmati 2012 sebagai film saja, film yang hanya menjadi sebuah hiburan semata.

Sumber: Resensi dan Ulasan Film 2012 Beserta Foto-fotonya

Foto-foto film 2012 : saya ambil dari Rotten Tomattoes

Sabtu, 04 April 2009

Resensi Fim: Kambing Jantan The Movie

Kambing Jantan: The Movie. Sebuah Film Pelajar Bodoh.
Seperti pada review-review film saya sebelumnya, setiap saya nonton film pasti punya alasan tertentu kenapa saya ingin nonton film tersebut walaupun pada akhirnya saya menyarankan tidak usah nonton film tersebut.

Tapi bagaimana dengan film Kambing Jantan yang diangkat dari blog dan buku yang laris manis tersebut? mungkin anda sudah tahu dan sudah bisa mengira-ngira apa alasan saya nonton film ini? Ya, karena tentunya film ini adalah film yang diangkat dari sebuah blog dan buku dari blogger terkenal Raditya Dika. Ya, karena saya telah memproklamasikan bahwa saya adalah blogger, saya akan mendukung aksi dari blogger-blogger Indonesia. Tapi, hal ini tidak akan mengurangi penilaian dari aksi mereka. Contohnya film ini, kalau memang saya tidak suka, saya akan katakan tidak suka, begitu juga dengan penilain baik buruknya menurut saya pribadi.

Jalan ceritanya langsung saya kutip dari webnya langsung saja ya...
Selepas SMU, Dika (Raditya Dika), yang juga dipanggil Kambing, harus melanjutkan pendidikan di Adelaide, Australia, mengambil major finance yang tidak sesuai minatnya. Maka dimulailah perjalanan Dika mencari jati diri: apa yang ingin dia lakukan dalam hidupnya sebenarnya?

Ketika dia menjalani kuliah di Australia, problem muncul dengan Kebo (Herfiza Novianti), pacarnya, karena harus menjalani Long Distance Relationship (LDR) yang menyebabkan pengeluaran keuangan sangat besar, komunikasi yang terganggu, dan kehidupan kuliah yang semakin lama membuat mereka berbeda.

Problem lainnya seperti bagaimana Dika mengalami kesulitan dalam belajar, dan kemunculan Sally Dickson, dosen bule yang lebih mirip tentara wanita, menambah dilema si Kambing dalam menyelesaikan masalah LDR dan finance (dalam dua arti sebenarnya: kebutuhan finance-nya dan sekolah finance-nya).

Pertemuannya dengan seorang teman SD, Ine (Sarah Shaftiri), yang membaca blog Dika berjudul “Kambingjantan”, membuka pikirannya bahwa dia bisa saja jadi penulis komedi. Sedangkan, persahabatannya dengan Harianto (Edric Tjanra), anak Kediri yang juga LDR dengan pacarnya, menambah keyakinan Dika untuk terus menentukan: hidup seperti apa yang dia mau?

Karakter-karakter pendukung lainnya, seperti Mama Dika, adalah cerminan ibu yang berharap banyak pada anak sulungnya, “mama jaman sekarang” yang merasa sangat mengenal anaknya ternyata harus mengakui bahwa anaknya memiliki “kelebihan” lain. Papa Dika dan Adik-Adik Dika menjadi karakter-karakter yang memperkaya unsur komedi cerdas yang ada dalam film ini.

Komentar saya...

Dari ide cerita, menurut saya tidak terlalu istimewa. Tapi mungkin kalo di blog atau bukunya terkesan istimewa mungkin karena bagaimana cara Radit menceritakan catatan hariannya jadi menarik dan lucu hingga membuat orang jadi gila karena tertawa sendirian. Tapi untuk di filmnya yang telah saya tonton ini saya merasa belum bisa melihat perbedaan yang jauh dengan film komedi Indonesia. Maksud saya saya belum melihat sesuatu yang beda. Walaupun sebenarnya sih jauh lebih bagus dari film komedi dewasa dan kamedi horor yang banyak menjamur di bioskop saat ini. Mungkin memang tidak mudah ya untuk membawa cerita yang sukses dalam sebuah novel menjadi sebuah film.

Persamaan yang mencolok yang saya lihat adalah kebiasaan dalam film komedi yang harus selalu menampilkan sesuatu yang jorok. Contohnya di adegan opening yang menampilkan papanya Radit yang merogok isi celananya gara-gara lupa ganti celana dalam. Atau juga di adegan dimana Radit (kalau tidak salah) mengusap mukanya dengan celana dalam papanya. Atau juga di adegan di mana tokoh Edgar, adiknya Radit yang selalu buang air besar di celana setiap kali diajak rapat keluarga. Dan juga sebuah adegan yang menggambarkan Radit ngetik di laptopnya sambil nongkrong di WC.

Mungkinkah ini dikarenakan Rudi Soedjarwo belum jago membuat film komedi? ya.. kalau dibandingkan film garapannya terdahulu, Ada Apa Dengan Cinta? film ini sungguh masih jauh.

Di luar itu semua, patut diacungi jempol untuk keputusan Rudi Soedjarwo yang telah memutuskan untuk memilih Radit sendiri sebagai pemeran utamanya sebagai Raditya Dika yang kelihatan bloon tersebut. Karena menurut saya Radit sangat memiliki tampang bloon dan oon. Dan menurut saya walaupun tidak melawak pun Radit sudah kelihatan lucu karena tampangnya yang sudah lucu tersebut. Apalagi ditambah dengan akting Radit yang bagus, jadi jangan kaget kalau nantinya Radit malah terkenal jadi aktor.

Dengan akting radit yang sangat natural, setiap adegan-adegan yang dilakoninya jadi kelihatan lucu dan menghibur. Walaupun lama-kelamaan saya kok melihat seperti Mr. Bin.

Selain itu yang saya suka dari film Kambing Jantan ini adalah pemilihan sound effect atau apa itu ya namanya ya? pokoknya pemilihan efek suaranya di setiap adegan-adegannya. Seperti pada adegan di mana Radit menjatuhkan ikannya yang masuk kedalam got, saya melihat pas. Jadi menurut saya, sound effectnya pas dengan adegan visualnya. Seperti pada saat sang tokoh sedang senang atau sedih.

Hasil akhir dari penilaian saya untuk film ini. Filmnya lucu dan menghibur. Untuk yang anda butuh hiburan yang lumayan, film ini bisa jadi jawaban yang lumayan juga.

Jenis Film :Drama/comedy
Produser :Tyas A. Moein
Produksi :Indika Pictures/vito Production
Pemain :Raditya Dika, Herfiza Novianti, Edric Tjandra, Sarah Shafitri
Sutradara :Rudy Soedjarwo
Penulis :Salman Aristo, Mouly Surya
Gambar saya ambil di sini

Pesan saya untuk Raditya Dika, yang mungkin siapa tahu membaca review ini, mohon maaf jika ada penilaian negatif dengan film anda. Salam blogger Bawean :)